NEWS:

  • Dari Limbah Kayu Menjadi Asap Cair, Masyarakat Desa Suko Mulyo Bersiap Menangkap Peluang di Kawasan Penyangga IKN
  • Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Penguatan Kabupaten Layak Anak di Kutai Timur
  • Tim Dosen Universitas Mulawarman Sosialisasikan Karakteristik Teknis Cincau Hijau kepada UMKM Desa Karang Tunggal
  • Inovasi Nanomaterial Hadirkan Air Bersih Untuk Mendukung Desa Wisata Pela
  • Jasa Raharja Perkuat Ekosistem Pelayanan melalui Sinergi dengan Pemprov dan Polda Jambi 

Penajam Paser Utara– Tumpukan limbah kayu tak selalu berakhir sebagai sesuatu yang dibuang. Di Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, limbah tersebut diperkenalkan sebagai bahan baku yang bisa diolah menjadi asap cair dan memiliki nilai guna. Gagasan ini diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan oleh Program Studi Pengolahan Hasil Hutan, Jurusan Lingkungan dan Kehutanan, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, 19 Agustus 2026. Kegiatan ini menyasar masyarakat anggota berbagai kelompok tani di Desa Suko Mulyo yang berada di Kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua Jurusan Lingkungan dan Kehutanan, Abdul Rasyid Zarta, serta Kepala Desa Suko Mulyo, Mustain. Keduanya menyambut kegiatan tersebut sebagai upaya mempertemukan pengetahuan perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Subiyono dari Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Kehadiran OIKN menambah dimensi penting dalam kegiatan tersebut, yaitu pemberdayaan masyarakat lokal menjadi bagian dari dinamika pembangunan kawasan IKN.

Dalam sesi sosialisasi, Erina Hertianti selaku narasumber menjelaskan bahwa limbah kayu masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Menurutnya, masyarakat perlu melihat limbah bukan semata-mata sebagai bahan buangan, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat diolah.

“Jangan melihat limbah kayu hanya sebagai sesuatu yang sudah tidak berguna. Kalau kita tahu cara mengolahnya, limbah ini masih bisa memberikan manfaat dan bahkan memiliki nilai tambah,” ujar Erina.

Beliau juga menekankan pentingnya pengetahuan masyarakat dalam mengembangkan teknologi pengolahan yang sesuai dengan kondisi dan potensi desa.

“Teknologinya tidak harus selalu rumit, yang penting masyarakat memahami prosesnya, tahu cara menggunakannya, dan bisa mengembangkan pemanfaatannya sesuai dengan kebutuhan di desa,” katanya.

Menurut Erina, pengolahan limbah kayu menjadi asap cair dapat menjadi salah satu pilihan pemanfaatan biomassa yang sekaligus membantu mengurangi limbah di lingkungan.

Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung, terutama saat demonstrasi proses pembuatan dan pengoperasian alat produksi asap cair. Antusiasme tersebut terlihat dari keaktifan peserta dalam berdiskusi serta banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait bahan baku, proses produksi, kualitas asap cair, pemanfaatan, hingga peluang pengembangannya sebagai produk yang bernilai ekonomi. Kondisi ini menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mampu meningkatkan ketertarikan peserta terhadap pemanfaatan limbah kayu menjadi produk yang lebih bermanfaat dan bernilai tambah.

Sebagai bagian dari kegiatan, tim PkM juga melakukan penyerahan alat produksi asap cair kepada masyarakat Desa Suko Mulyo. Penyerahan alat ini menjadi bentuk dukungan konkret agar pengetahuan yang diberikan tidak berhenti di ruang sosialisasi, tetapi dapat dilanjutkan melalui praktik dan pengembangan produksi secara mandiri oleh masyarakat.

“Kami berharap alat yang diserahkan ini tidak hanya menjadi fasilitas, tetapi benar-benar digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat. Dengan begitu, kegiatan PkM ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ujar Irma.

Bagi Desa Suko Mulyo, kegiatan tersebut bukan sekadar soal mengolah limbah. Desa ini berada di Kecamatan Sepaku, wilayah yang mengalami perkembangan seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara. Peningkatan kapasitas masyarakat menjadi penting agar warga lokal dapat ikut mengambil peran dalam berbagai peluang yang tumbuh di kawasan tersebut. Pengolahan limbah kayu menjadi asap cair juga memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali sumber daya yang masih memiliki nilai, mengurangi limbah, sekaligus membuka peluang nilai tambah bagi masyarakat.

Dengan demikian, melalui kegiatan ini, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menyerahkan sarana produksi sebagai modal awal bagi masyarakat untuk mengembangkan pemanfaatan limbah kayu secara berkelanjutan. Dari limbah kayu yang sebelumnya dianggap sisa, masyarakat Suko Mulyo kini memiliki pengetahuan dan alat untuk mengubahnya menjadi produk yang bernilai. Hal ini menjadi sebuah langkah kecil untuk memperkuat kemandirian masyarakat di kawasan penyangga IKN.

Warta Kaltim @2026-Jul (ed)

WARTA TERKAIT

WARTA UPDATE

« »