SAMARINDA — Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Timur mulai mempersiapkan diri mengikuti program Business Registration SDGs, sebuah inisiatif yang didorong melalui kolaborasi Pusat Kajian IKN & SDGs Universitas Mulawarman, Japan International Cooperation Agency (JICA), dan Bappeda Provinsi Kalimantan Timur.
Koordinasi bersama pelaku UMKM tersebut berlangsung pukul 13.00–16.00 WITA di Ruang Pertemuan Lantai 2 Gedung Masjaya (HUB), Jalan Sambaliung, Universitas Mulawarman, Samarinda.di Ruang Pertemuan Lantai 2 Gedung Masjaya (HUB), Jalan Sambaliung, Universitas Mulawarman, Samarinda, Senin (24/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari proses implementasi Business Registration bagi UMKM di Kalimantan Timur, secara khusus ditujukan untuk melakukan koordinasi bersama pelaku UMKM di Kaltim.
Hadir sebagai narasumber dari JICA Jepang, Hisaaki Mitsui, kepala proyek SDG di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa program tersebut telah berjalan hampir tiga tahun dan dilaksanakan di lima provinsi, termasuk Kalimantan Timur dan Sumatera Utara.
Mitsui mengatakan, Program Registrasi Bisnis SDG diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen promosi untuk meningkatkan kesadaran sektor swasta terhadap pentingnya pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, ketertarikan pelaku UMKM Membangun kesadaran bisnis yang berkelanjutan, adanya logo SDGs di Produk UMKM. Karena itu, ia mendorong para peserta untuk memperkenalkan usaha masing-masing sekaligus menyampaikan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan bisnis.
Unmul dan Pemerintah Daerah Siapkan Launching
Sementara itu, Dr. Hj. Yana Ulfah, S.E., M.Si., anggota Pusat Kajian IKN & SDGs Universitas Mulawarman, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para pelaku UMKM yang hadir.
Dalam penjelasannya, Yana mengatakan bahwa program Business Registration sebelumnya telah disosialisasikan kepada sejumlah pihak dan akan dilanjutkan dengan peluncuran resmi pada September 2026 di Kantor Gubernur Kalimantan Timur.
Ia juga menyampaikan bahwa tim dari Jepang dan Jakarta turut hadir dalam rangka memastikan keberlanjutan program. Koordinasi sebelumnya juga telah dilakukan dengan sejumlah instansi terkait, termasuk Bappeda dan Bank Indonesia.
Setelah kegiatan koordinasi, tim juga merencanakan kunjungan atau peninjauan ke sejumlah UMKM untuk melihat secara langsung kondisi dan perkembangan usaha peserta.
Program Business Registration ini sebelumnya telah dipersiapkan melalui koordinasi antara Pusat Kajian IKN & SDGs Universitas Mulawarman, JICA, dan Bappeda Provinsi Kalimantan Timur.
UMKM Kaltim Kenalkan Produk Unggulan
Dalam pertemuan tersebut, para pelaku UMKM diberi kesempatan memperkenalkan usaha dan produk masing-masing.
Handayanti dari Bakulangu, misalnya, memperkenalkan produk bawang goreng dan keripik kentang. Sementara Lina Wati dari Ibnu Food memperkenalkan produk amplang dan berbagai produk olahan lainnya.
Pelaku UMKM lainnya, Sari Marisa, memperkenalkan produk kacang rasa sate yang disebut sebagai salah satu produk khas yang dikembangkan di Samarinda.
Sementara itu, pelaku usaha batik juga turut memperkenalkan bisnisnya. Ridis Huryani dari Ridis Batik menjelaskan usaha batik yang dikembangkannya, sedangkan Silvi Biryati dari Atiiqna Batik berbagi pengalaman mengenai produksi sekaligus kegiatan pelatihan batik.
Peserta lainnya juga memperkenalkan usaha minuman olahan berbahan sarang burung walet dengan berbagai varian rasa yang berasal dari Samarinda.
Daftar undangan resmi kegiatan mencakup 20 UMKM dari berbagai bidang usaha, mulai dari kerajinan, pangan olahan, madu, batik, tenun hingga fesyen.
Sertifikasi Jadi Tantangan UMKM
Diskusi berkembang pada berbagai persoalan yang dihadapi UMKM dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing usaha.
Sejumlah peserta mengungkapkan bahwa tingginya biaya produksi masih menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, pelaku UMKM juga menghadapi tantangan dalam memperoleh berbagai sertifikasi produk yang dibutuhkan untuk memperluas akses pasar.
Sertifikasi seperti BPOM dan ISO dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat daya saing produk UMKM ketika memasuki pasar yang lebih luas.
Para peserta juga mengharapkan adanya pelatihan dan konsultasi bisnis yang lebih terarah, khususnya dalam bidang pemasaran, branding, pengemasan produk, serta pengembangan strategi bisnis.
Program Business Registration SDGs diharapkan tidak berhenti pada proses registrasi atau pemberian pengakuan semata, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk memperoleh wawasan, pendampingan, jejaring, dan akses yang lebih luas.
Logo SDGs dan Pasar Generasi Muda.
Dalam diskusi juga muncul gagasan mengenai pemanfaatan logo atau identitas SDGs pada produk sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran konsumen terhadap produk yang memiliki nilai pembangunan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari strategi branding sekaligus menarik perhatian konsumen muda yang semakin mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan dalam memilih produk.
Materi CSR/Sustainable Procurement dari Global Compact Network Japan menempatkan lingkungan, kondisi tenaga kerja, hak asasi manusia, dan antikorupsi sebagai bagian dari praktik bisnis berkelanjutan di sepanjang rantai pasok.
Pendekatan tersebut juga menegaskan bahwa keberlanjutan tidak cukup dilakukan oleh satu perusahaan, tetapi perlu melibatkan berbagai aktor dalam rantai pasok.
Akademisi dan Pemerintah Diharapkan Hadir
Para pelaku UMKM berharap program ini dapat memperkuat kolaborasi antara UMKM, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan internasional.
Dukungan akademisi dinilai penting terutama dalam memberikan pendampingan berbasis pengetahuan, sementara pemerintah diharapkan dapat membantu membuka akses terhadap pelatihan, sertifikasi, pembiayaan, pemasaran, serta pemanfaatan sumber daya lokal.
Bagi pelaku UMKM, Business Registration SDGs bukan sekadar persoalan administratif. Program ini diharapkan menjadi sarana untuk memperluas wawasan, meningkatkan kapasitas, memperkuat branding, memperluas jangkauan pasar, dan membangun usaha yang lebih berkelanjutan.
Melalui kolaborasi JICA, Universitas Mulawarman, Bappeda, pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan pelaku UMKM, program tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem usaha yang semakin kuat sekaligus mendorong UMKM Kaltim berkontribusi lebih besar terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Setelah Koordinasi dengan UMKM acara dilanjutkan dengan kunjungan ke galeri batik Atiiqna Kelompok Karya Dunia di Jalan Pramuka Kota Samarinda yang merupakan binaa binaan Kantor Perwakilan Bank Indobesia Perwakilan Prov. Kaltim, pada Kinjungan di galeri Tim Jica Jepang dan Unmul di tontonkan Praktik membatik menggunakan pewarna kayu asal kaltim hingga produk gallery.
Warta Kaltim @2026-Jul





